NEWS

George Release.jpg
27 Apr 2017

GEORGE AKHIRI PUASA GELAR IGT

IN Tournament

KARAWANG, 27 APRIL.  Setelah memimpin sejak hari pertama Seri Keempat Indonesian Golf Tour (IGT) yang berlangsung di Lotuslakes Golf Club, Karawang, George Gandranata akhir menuntaskan dahaga gelar IGT.  Bermain tanpa cela dan stabil di hari terakhir dengan membukukan skor akhir 70 (dua-di bawah par), pegolf berusia 31 tahun mengakhir puasa gelar juara IGT yang terakhir kali diukirnya pada IGT 2014 di Padang Golf Modern dengan skor total 7 di-bawah par, unggul satu pukulan dari Naraajie Emerald Ramadhan (amatir).

 

Mengawali putaran terakhir dengan keunggulan satu pukulan dari Ian Andrew dan Naraajie, George bermain sangat sabar. Setelah menyelesaikan sembilan hole pertama dengan even par, George menggebrak di hole pertama (10) pada sembilan hole kedua dengan birdie sehingga menjadi enam-di bawah par. Namun, Naraajie kembali menipiskan selisih skor dengan George dengan tambahan birdie pula. Di dua hole berikutnya (11 dan 12), Naraajie yang menambah dengan dua birdie justru mengambil alih pimpinan dengan keunggulan satu pukulan (tujuh-di bawah par).

 

Namun, keunggulan Naraajie hanya bertahan dua hole. George menyamai Naraajie yang bermain par dengan skor tujuh-di bawah par di hole 15. Skor keduanya terus bertahan hingga  memasuki. Ketika penonton yang menyaksikan putaran final mulai berpikir bahwa partai playoff akan menajdi penentu juara, Naraajie justru mengalami “kecelakaan” ketika pukulan kedua menempatkan bola di danau depan kiri green. Ia pun harus menerima penalti satu pukulan.

Naraajie melakukan empat pukulan untuk mencapai green, sebaliknya George hanya tiga pukulan. Keduanya menutup permainan dengan masing-masing dua putt. George mencetak even par, dan Naraajie bogey.

 

“Saya mencoba bermain sabar karena saya tidak bisa menyerang di lapangan ini. Lapangannya panjang, dan greennya keras. Karena itu saya selalu berupaya menaruh bola di tengah lapangan. Itu sebabnya agak membosankan setiap hari. Pergerakan skornya pun lambat. Dua atau tiga birdie sehari. Strateginya memang seperti itu. Namun, saya akui lumayan beruntung ketika bola Naraajie masuk air. Kalau dia dua on the green, mungkin hasilnya bisa berbeda,” kata George, yang membawa pulang cek senilai Rp34 juta ini. “Hari ini pun putting saya banyak yang tidak masuk. Jadi, saya bersyukur bisa menjadi juara. ”

 

Meski demikian, George melontarkan pujiannya kompetitornya ini. “Saya sangat terkesan dengan short game-nya Naraajie. Anak ini akan menjadi bintang masa depan Indonesia. Permainannya rapi, dan anaknya tidak takut menyerang,” jelas George.

 

Naraajie kembali mengulang kejadian seperti di IGT Seri III. Ketika berpeluang untuk memaksa play-off, ia justru tersandung dengan melakukan kesalahan yang justru merugikannya di hasil akhir. “Saya salah memukul bola. Padahal, di 17 hole sebelumnya, semua permainan berjalan rapi. Tapi, ya belum beruntung,” kata pegolf berusia 16 tahun yang sangat berambisi menjuarai IGT sejak IGT Seri III lalu.

 

Menempati posisi kedua, Naraajie tetap meraih gelar Low Amateur (Pegolf Amatir Terbaik). Ini merupakan gelar ketiganya secara berturut-turut.